Pola Pikir ORANG KAYA

Karya Orsinil Mulyo Wiharto

Archive for the '06 Rahasia aset' Category


   May 18

Melek finansial

 
Orang yang melek finansial harus memahami laporan keuangan yang biasanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Melek finansial artinya memahami bentuk laporan keuangan, mampu memahami perbedaan aset dengan libilitas serta menentukan fokus keuangan yang diorientasikan pada aset, bukan keseimbangan pemasukan dengan pengeluaran.
 
   Send article as PDF   

Read the rest of this entry »

   May 30

Memahami laporan keuangan

Melek finansial artinya mampu membaca dan memahami laporan keuangan. Melek finansial ditandai dengan kemampuan untuk membedakan laporan keuangan yang dimiliki oleh orang kaya dengan laporan keuangan yang dimiliki oleh orang miskin dan kelas menengah.
Orang yang melek finansial minimal harus memahami 2 (dua) bentuk laporan keuangan, yakni arus kas (cashflow) dan aktiva (harta). Cashflow terdiri dari [...]

Read the rest of this entry »

   May 29

Memahami perbedaan aset dengan liabilitas

Aset adalah sesuatu yang memberikan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah sesuatu yang mendatangkan pengeluaran. Orang yang menganggap liabilitas sebagai aset mengakibatkan liabilitasnya semakin besar sementara asetnya justru semakin kecil.
Menambah aset berarti menambah pemasukan, misalnya menyewakan sebagian kamarnya yang tidak digunakan untuk kos-kosan. Menambah aset berarti mengurangi pengeluaran, misalnya membeli 2 (dua) buah rumah untuk disewakan daripada [...]

Read the rest of this entry »

   May 28

Fokus pada aset bukan pada keseimbangan

Orang yang fokus pada keseimbangan pemasukan dengan pengeluaran tidak akan menambah aset. Orang yang berusaha menambah pemasukan akan berakibat menambah pula pengeluaran sehingga tetap saja tidak kaya walaupun penghasilannya sudah meningkat.
Orang yang tidak fokus pada aset akan semakin meningkat pengeluarannya kendati pemasukannya juga meningkat. Orang yang mempunyai pengeluaran tinggi dan tidak tercukupi dari pemasukannya akan [...]

Read the rest of this entry »

   May 26

Mengurusi bisnisnya sendiri

Mengurusi bisnis sendiri artinya mengurusi aset, bukan mengurusi pemasukan, pengeluaran dan liabilitas. Mengurusi pemasukan berarti mengurusi aset pemilik dan perusahaan, mengurusi pengeluaran berarti mengurusi aset penjual dan pemerintah, sedangkan mengurusi liabilitas berarti mengurusi aset kreditur dan bank.
Mengurusi pemasukan memperbesar aset pemilik dan perusahaan sedangkan aset pekerja atau pekerja lepas tetap kecil, mengurusi pengeluaran berarti memperbesar [...]

Read the rest of this entry »

   May 25

Semakin santai dengan bisnisnya

Seorang pekerja, pekerja lepas, pemilik usaha dan investor harus membangun sistem bisnis yang membuatnya semakin lama semakin sedikit melakukan pekerjaan.
Pada awalnya seseorang harus bekerja keras untuk menciptakan dan membangun sistem bisnis, tetapi semakin lama kesibukannya harus semakin berkurang dan harus semakin santai bahkan akhirnya bisa terlepas dari semua pekerjaan (JOB). JOB = Just Over Broke [...]

Read the rest of this entry »

   May 03

Memiliki aset produktif

Orang kaya memiliki barang-barang produktif sebagai aset, bukan barang-barang konsumtif. Barang produktif adalah aset yang sesungguhnya, karena barang-barang tersebut mendatangkan pemasukan dalam bentuk bunga, dividen, gain, sewa,  laba dan sebagainya. Barang konsumtif adalah liabilitas karena memerlukan uang keluar dalam bentuk biaya, pajak, bunga dan sebagainya.

Orang kaya memiliki produk investasi (deposito, obligasi, reksadana, koin emas, dsb), [...]

Read the rest of this entry »

   May 02

Mengubah aset konsumtif

Orang kaya memiliki harta konsumtif yang difungsikan sebagai harta produktif. Harta konsumtif memerlukan uang keluar dalam bentuk biaya, pajak, bunga dan sebagainya, sehingga sedapat mungkin bisa menghasilkan pemasukan untuk menanggung pengeluarannya tersebut. Jumlah pemasukan dari harta konsumtif yang difungsikan sebagai harta produktif diusahakan lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengeluarannya.

Harta konsumtif seperti rumah, kendaraan, alat elektonik, [...]

Read the rest of this entry »

   May 01

Memiliki penghasilan pasif

Orang yang memiliki penghasilan 10 juta, namun pengeluarannya 10 juta atau lebih tidak dapat disebut kaya. Orang yang memiliki pengeluaran 1 juta, sedangkan penghasilannya lebih dari 1 juta mempunyai peluang untuk kaya.

Orang yang mempunyai pengeluaran 1 juta, sedangkan penghasilannya, jauh melebihi 1 juta adalah orang yang benar-benar kaya, lebih-lebih apabila penghasilannya berupa penghasilan pasif, yaitu [...]

Read the rest of this entry »












Featuring WPMU Bloglist Widget by YD WordPress Developer

Menjadi seorang profesional, misalnya menjadi dokter, fisioterapis, akuntan, konsultan hukum,dan sebagainya adalah menjadi pekerja lepas. Seorang penjaja barang, penjual jasa, pedagang, pemilik toko, warung, perantara dan orang-orang yang mengandalkan keahliannya untuk mandiri serta bekerja untuk diri sendiri adalah seorang pekerja lepas. Amankah keadaan finansial para pekerja lepas?   Bekerja tidak membuat seseorang menjadi kaya   Bagi kita yang tidak mau bekerja di kantor pemerintah, perusahaan swasta atau bekerja pada seorang majikan, pilihannya adalah menjadi seorang pekerja lepas (self employed). Seorang pekerja lepas adalah orang yang bekerja untuk dirinya sendiri atau menjadi boss bagi diri sendiri. Seorang profesional (dokter, fisioterafis, pengacara, konsultan, dsb), pedagang, penjual barang, penjual jasa, konsultan, perantara dan sebagainya adalah pekerja lepas. Kalau kita ahli pada suatu bidang, misalnya ahli di bidang akuntansi, biasanya kita akan diminta jasanya untuk menangani pekerjaan akuntansi di suatu tempat di luar tempat kerjanya. Mungkin di waktu yang lain, kita sendiri yang akan menawarkan jasa kepada pihak lain demi mendapatkan penghasilan. Pada tahap ini, kita telah memposisikan dirinya sebagai seorang pekerja lepas (self employed). Sebagai seorang pekerja, kita juga dapat melakukan pekerjaan sambilan dengan menjajakan sebuah barang atau menawarkan sebuah jasa di sela-sela pekerjaan kita. Aktivitas seperti ini bisa jadi niatnya adalah untuk mendapatkan penghasilan sebagai pekerja sekaligus sebagai pekerja lepas. Mungkin saja setelah merasakan nikmatnya mendapat penghasilan dengan menjajakan barang, menjual jasa, atau merasa sudah waktunya untuk melepas kedudukannya sebagai pekerja dan kita akan sepenuhnya beralih menjadi pekerja lepas. Seorang pekerja lepas akan bekerja untuk diri sendiri dan biasanya berusaha mendapatkan penghasilan dari seseorang, kantor pemerintahan atau  perusahaan yang mendatangkan penghasilan besar bagi dirinya. Dia melakukan pekerjaan mandiri ataupun berhubungan dengan pihak lain adalah dalam rangka menjual produk atau menjual sebuah jasa. Kita bisa saja mempunyai niat menjadi pekerja lepas tanpa terlebih dahulu melalui proses sebagai seorang pekerja. Untuk itu, biasanya kita akan memilih program pendidikan yang lulusannya dapat bekerja secara mandiri, seperti program studi kedokteran, fisioterapi,  ilmu hukum, ilmu computer dan sebagainya. Dengan bekerja sebagai seorang profesional, menjadi dokter, fisioterafis, konsultan hukum, ahli reparasi komputer, dan sebagainya diharapkan dapat mencapai keamanan finansial. Ada juga orang yang sejak semula berniat menjadi pemilik usaha, namun apa yang dilakukan sama dengan apa yang dilakukan pekerja lepas, yakni menjajakan suatu barang atau menjual jasa kepada seseorang, kantor pemerintahan atau perusahaan. Pada saat merintis usaha, kita mungkin akan bekerja di perusahaan kita sendiri, menjadi pemilik usaha sekaligus menjadi pekerjanya, namun perilakuknya tidak lebih seperti pekerja lepas yang niatnya sekedar untuk mencapai keamanan finansial.   Bekerja untuk uang menciptakan ketamakan   Sebagai seorang pekerja lepas (self employed), kita juga sangat mengandalkan waktu dan tenaga untuk mendapatkan penghasilan. Ada waktu maka ada penghasilan. Penghasilan yang diperoleh sering berjumlah besar, tetapi tidak rutin bahkan kadang-kadang tidak mendapatkan penghasilan dalam jangka waktu yang relatif lama. Dalam kondisi seperti ini, maka seorang pekerja lepas sangat mengandalkan perolehannya yang besar di waktu yang lalu. Ketika usia sudah menanjak dan kemampuannya semakin menurun, penghasilan seorang pekerja lepas pun semakin menurun pula. Ada usaha maka ada penghasilan. Ketika berhenti bekerja, seorang pekerja lepas tidak akan mendapatkan penghasilan lagi dan tidak menerima pensiun sebagaimana yang diperoleh seorang pekerja. Seorang pekerja lepas mungkin berusaha melakukan pekerjaannya sebaik-sebaiknya untuk mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya ketika mempunyai kesempatan. Mereka tidak menyadari bahwa, seiring dengan meningkatnya penghasilan yang diperoleh, biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan tersebut juga meningkat. Penghasilan yang besar tidak membuat seseorang menjadi kaya, karena ketika mendapatkannya masih dikenai berbagai pajak, demikian pula ketika uang itu dibelanjakan. Ketika dibelanjakan uang kita masih mendapat potongan-potongan lagi dalam bentuk pajak pembelian, bunga, denda dan sebagainya. Ketika mendapat kenaikan penghasilan, harga-harga barang pun sudah lebih dahulu merangkak naik dengan kenaikan yang melebihi tingkat kenaikan penghasilan tersebut Seorang pekerja lepas yang sudah  meningkat penghasilannya dan mendapatkan penghasilan yang besar biasanya akan berusaha memperbaiki keadaan dengan memiliki rumah yang lebih besar atau kendaraan yang lebih mewah. Tindakan ini bisa mengakibatkan keinginannya untuk memiliki uang semakin meningkat, karena merasakan nikmatnya banyak memiliki uang. Orang yang merasakan nikmatnya banyak uang akan menjadi tamak dan menginginkan semakin banyak memiliki uang akan rela melakukan pekerjaan apapun demi mendapatkan uang lebih banyak lagi. Dia rela bekerja lebih keras dan semakin keras, bahkan bekerja dengan cara-cara yang semakin tidak mengindahkan nilai-nilai kebenaran.